Liku Hidup Ku (Part 2)

cartoon-wallpaper-about-mothers-day (1)                 Sekolah ini menerapkan sistem House, dimana House adalah keluarga keduaku disini. Aku ditempatkan di Hornbill House yang menurutku asyik. Aku benar-benar merasa memiliki keluarga yang baru, yang bisa menjadi tempatku untuk mencurahkan semua penat yang aku rasakan selama masa sekolah. Aku jadi ingat ibu, aku merindukannya. Berhubung daerah asalku yang jauh dari sini membuatku susah untuk pulang kerumah, kemungkinan hanya satu atau dua tahun sekali.

          Beberapa  bulan berlalu. Ya Tuhan, aku merindukannya, masakannya, hangat pelukannya, belaian tangannya yang lembut tiap aku beranjak tidur, suaranya yang lembut saat memberikan nasihat kepadaku. Apakah ia tak merindukanku? Tak pernah ia mengirimkan surat atau mengunjungiku pada hari libur. Aku iri pada teman-teman yang mempunyai keluarga yang tak jauh dari sini. Hampir setiap minggu, keluarga mereka mengunjungi dan mengajak mereka berkeliling kota Palembang, sedangkan aku sepeser uangpun aku tak punya. Malang nasibku. Tapi, aku mencoba kuat. Kurikulum pelajaran yang membuat pusing, pekerjaan rumah yang menumpuk, ulangan dan pre-test yang hampir tiapa hari dilaksanakan, membuat aku merasa sedikit jenuh. Aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku butuh motivasi, ibu. Ibu lah motivasi terbesarku, tak bertemu dengannya seharipun sejujurnya aku tak mampu. Tapi, bagaimanapun ibu lah yang membuatku bias sampai kesini, bersekolah di sekolah sebagus ini.

          Guruku berkata bahwa nilai Bahasa Inggris dan Matematika ku sangat Bagus. Hahaha, aku merasa tak percaya. Kurikulum sekolah tingkat tinggi ini kadang membuatku lelah. Suatu hari, ketika sedang belajar di kelas, sebuah pengumuman diperdengarkan melalu radio sekolah. Radio itu menyebutkan nama-nama siswa yang akan ikut olimpiade Math English tingkat provinsi. “Sonya Pratiwi.. Zalika Indah.. Reza Pratama.. Assyifannisa.. dan Merry Septika.” Sepertinya aku mendengar namaku tadi. “HAH?! Aku terpilih?” setengah berteriak aku mengejutkan siswa lain beserta guru yang sedang mengajar saat itu. Temanku berkata, “Wah, congratulations Syifa, you’re great!” sambil tersenyum aku berkata, “Thank’s a bunch, Guys!” rasa bangga dan senang melanda seluruh hati dan pikiranku. Semangatku untuk belajar terus memuncak. Saatnya untuk membuat orang tua dan teman-temanku bangga padaku, terutama ibu. Yah, rasa sedih kembali menghampiri saat aku teringat pada orang tercintaku itu. Memikirkan keadaannya membuatku gelisah tak menentu. Tapi, ya sudahlah, cukup berkonsentrasi pada pelajaran itu sudah cukup.

          Hari olimpiade pun tiba. tes tertulis sudah kulewati dengan lancarnya. Tiba pada menjawab soal lisan dan rebutan. Ini membuatku sangat nervous. Tapi, akhirnya aku dapat dengan mudah menjawab semua pertanyaan dengan cepat. Setelah penghitungan score, lalu diumumkan, “Juara pertama jatuh kepada.. Assyifannisa!” Apa? Aku? Percaya nggak sih? Perasaan tak percaya sekaligus senang memenuhi pikiranku. Ingin lompat dari kursi tapi sudah terlambat. Haha.. Kado terindah untuk hasil perjuanganku dengan belajar dengan tekun ini sangatlah memuaskan. Tapi, aku tidak mau terlalu puas dulu, masih banyak yang harus aku capai demi cita-citaku. Aku ingin sekali melihat ibu menangis, menangis karena kemenanganku, menangis karena bahagia ketika putrinya berhasil. Itu nanti, teruskan perjuangan adalah hal yang harus aku lakukan saat ini.

***

            Berbagai kompetisi sudah aku ikuti hingga ke tingkat Internasional dan berbagai prestasi pun sudah aku persembahkan untuk kedua orangtua, sekolah, serta teman-temanku. Aku senang, melihat mereka tersenyum karena keberhasilanku. Dan sekarang aku duduk di kelas XI Science 2, kelas ipa pertamaku. Aku senang sekali bisa masuk kelas ipa impianku. Hari-hariku di kelas diwarnai dengan adanya teman yang tidak menyukaiku entah karena aku begitu bodoh atau karena mereka iri padaku. Aku melihat perubahan sikap teman-temanku setelah berhembus kabar bahwa ada salah satu senior yang populer di sekolah ini menyukaiku. Aku tak ingin menggubris kabar ini, aku tak percaya. Namaya Arga, anak kelas XII Social yang cool dan jago banget bermain bola basket. Banyak siswi yang menyukainya, tapi tak termasuk aku. Ku anggap angin lalu. Ketika aku sedang belajar dikelas, tiba-tiba ada salah satu guruku mendatangiku dan berkata, “Nak, mari ikut Ibu, ada yang ingin Ibu sampaikan.” Aku merasa bingung, kenapa tiba-tiba Ibu guru memanggilku. Kemudian dilanjutkannya, “Ibu mendapat kabar buruk dari rumahmu. Kemarin ibumu masuk rumah sakit karena diduga terkena kanker hati. Dan hari ini ternyata itu benar, ibumu terdiagnosa dan langsung menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit. Yang sabar ya, Nak.” Bagai kilat dan petir menyambar seluruh tubuhku dan aku terjatuh rasa seluruh tulangku lenyap seketika, “IBU MENINGGAL? AKU TAK PERCAYA!” aku seketika berteriak dan menangis meraung-raung dan Ibu Guru langsung memelukku. Ia menenangkan ku. Ia berkata bahwa aku diperbolehkan pulang kerumah hari ini.

          Ketika tiba di Padang, aku sudah dijemput ayah yang kemarin baru mendarat dari Thailand. Ayah langsung memelukku erat, ketika itu juga air mataku mengalir deras. “Aku tahu ayah sangat mencintai ibu apapun keadaanya. Aku ingin ayah ikhlas menerima ini.” Walaupun aku menangis, tapi aku harus buktikan air mata ini tidak akan menjadi sia-sia, aku akan membahagiakan ibu yang sekarang telah pergi dengan tenang, diiringi dengan do’a-do’a dari orang-orang tercintanya dan ayah yang sekarang sedang bekerja keras untukku dan masa depanku. Ayah menyampaikan kata-kata terakhirnya kepada ayah dan menyampaikannya kembali padaku, “Jaga baik-baik anak kita Syifa.. dia adalah satu-satunya harta terbaik kita, jangan pernah sia-siakan dia. Aku ingin kau cari penggantiku agar kau tak akan terlarut dalam sedih untuk hanya memikirkan wanita yang hanya bisa menyusahkanmu saja. Aku pergi karena aku mencintaimu..”. Aku hanya terdiam dan sejenak bertatap dengan ayah seolah berbicara dengan bahasa kalbu.

          Hari demi hari ku jalani tanpa ibu yang telah tiada dan ayah yang kerja nun jauh disana. Hingga kini ayah belum menikah lagi dan tetap bekerja dengan baik  dan kabarnya naik jabatan menjadi mandor hingga berhasil meluluskan aku dari sekolah sebagus ini.

          Dan sekarang aku sedang kuliah di Harvard University di USA. Aku dapat melanjutkan sekolah kesini berkat beasiswa yang aku dapatkan dari sekolahku. Aku yakin ibu sedang tersenyum sekarang di surga melihat aku dan ayah bahagia sekarang. Walaupun kami terpisah sangat jauh, tapi komunikasi aku dan ayah tetap berjalan lancar. Hampir setiap malan ayah meneleponku ketika aku sedang tidak ada kuliah dan ayah juga sedang tidak terlalu sibuk. Aku bahagia sekali dan bengga memiliki ayah sepertinya dan ibu yang hingga sekarang selalu ku kenang dihatiku dan akan selamanya di sini. Semoga doaku untuk ibu di ijabah oleh Tuhan YME. Aku mencintaimu ibu!

-TAMAT-

-Created by: Audhrie)

Posted on September 29, 2013, in Story and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: