Liku Hidup Ku (Part 1)

cartoon-wallpaper-about-mothers-day (1)

 

 

Prokk.. Prokk.. Prokk.. Suara tepuk tangan para tamu menggema di gedung OPI Convention Center.

Bangga sekali. Itulah rasanya ketika aku dinobatkan sebagai siswi terbaik dari kelas XII Science 3 di SMA Negeri Internasional Sumatera Selatan (Sampoerna Academy), salah satu sekolah menengah atas  terbaik di Sumatera Selatan. Dan sekarang aku sedang melanjutkan sekolah ku di Harvard University di USA. Namun, kebahagiaanku saat itu kurasa sangatlah kurang karena orang tercintaku tidak hadir pada acara kelulusan di sekolahku, Ibu. Yah, teriris sekali rasanya ketika melihat teman-teman yang menerima hasil kelulusan sambil ditemani oleh kedua orang tua mereka. Sedangkan aku hanyalah didampingi oleh paman dan bibiku karena ayah sedang bekerja menjadi TKI di Thailand.

Assyifannisa itulah namaku yang berarti “wanita penyembuh” sebagai harapan orang tuaku kepadaku untuk menyembuhkan keterpurukan keluarga kami dari kemiskinan. Nama yang menurutku begitu sempurna dan sarat akan makna. Aku adalah seorang  putri sulung dari 2 bersaudara, tetapi malangnya adik kecil tersayangku meninggal 2 tahun yang lalu akibat kanker otak yang dideritanya semenjak ia lahir. Jadi secara tidak langsung, aku ini adalah anak tunggal. Bukannya senang, tetapi sedih ketika lamunanku tertuju kepada masa dimana seluruh keluargaku masih tinggal bersama dan bahagia, keluarga kecil yang memberikanku semangat untuk terus berjuang meraih cita-citaku, “jadilah anak kebanggaanku, gapailah mimipi-mimpimu, putri tersayangku, harapan terbesar kami tempatkan dipundakmu.” Pesan ibu sewaktu aku akan beranjak tidur pada malam itu. Malam sebelum aku berangkat menuju sekolah ini, Sampoerna Academy, untuk mengantarkan formulir tebal yang telah susah payah aku isi semalaman suntuk, dan ibu dengan senantiasa menungguiku hingga larut malam tanpa mengantuk sedikitpun. Alangkah hebat dirimu ibu!

Tempat tinggalku yang jauh dari kota Palembang, tempat sekolah ini berdiri, membuatku kesulitan untuk menuju kesini. Jika tidak dengan bus, mungkin travel. ”Travel itu mahal, Nak. Jika ibu punya cukup uang, akan ibu sewakan travel untukmu.” Yah, bagitulah ucap ibu saat aku menggerutu ingin naik kendaraan travel. “Baik ibu, Syifa mengerti kok. Syifa minta maaf sudah memaksa ibu tadi.” Aku sangat merasa bersalah, kasihan ibu. Setelah ibu membelikan karcis bus di terminal yang jaraknya berkilo-kilo meter dari rumah dan ibu memboncengku dengan sepeda untuk menuju kesana karena ayah sedang bekerja saat itu, dan hari itu juga aku berangkat ke Palembang serta berpamitan. Aku berencana menginap di kediaman paman disana selama menunggu hasil tes administrasi, karena tidak mungkin jika aku pulang pada hari itu juga karena rumahku terletak di daerah terpencil di provinsi Sumatera Barat. Dengan modal tekad dan do’a kedua orangtuaku, aku berangkat. Bismillah hir rohmanir rohim.

***

Setibaku di Palembang, betapa terkejutnya aku, ketika melihat jalan raya yang penuh sesak dengan kendaraan dan asap-asap kendaraan bermotor. “Benarkah ini di Palembang? Jadi seperti ini tampaknya.” Aku terus berjalan menyusuri gang-gang untuk mencari letak rumah pamanku. Panas dan teriknya matahari membuat kulitku menjadi kemerahan dan aku merasa sangat haus saat itu. Aku hanya dibekali uang sepuluh ribu yang masih kusimpan di kantong jaket sweaterku. Sweater rajutan tangan ibu khusus untukku. Aku selalu membawanya jika bepergian jauh agar selalu ingat ibu. Setelah lama berjalan menahan haus, akhirnya aku sampai di depan sebuah rumah berpagar hijau, berhalaman luas nan asri. Inilah rumah pamanku yang aku cari seharian ini. Paman serta keluarganya menyambutku dengan ramah. Telah disiapkannya satu kamar kecil nan rapih untukku. Dipersilahkannya aku untuk beristirahat dan paman bersedia mengantarkan formulir itu ke Sampoerna. Beliau memang baik, sama seperti ayahku. Ayah yang senantiasa menafkahi keluarga dengan bekerja membanting tulang demi sesuap nasi untuk keluarganya. Aku menyayanginya.

1 bulan berlalu, yang selama ini kutunggu akhirnya terjawab. “Benar ini dengan Assyifannisa?” terdengar suara wanita nun jauh disana lewat telepon genggam pamanku, maklum aku tidak punya. “Iya benar, ini siapa?” tanyaku penasaran. “Saya dari SMAN Sumsel Sampoerna Academy ingin mengabarkan bahwa formulir yang anda kirim diterima dan anda akan menjalankan tes selanjutnya, yaitu tinggal di asrama selama 3 hari pada tanggal 18 April nanti. Ditunggu kedatangannya hingga pukul lima sore. Anda disarankan membawa pakaian sekolah, alat mandi, dan pakaian untuk tidur. Selama tinggal disini anda tidak akan dipungut biaya sedikitpun. Terima kasih.” Betapa terkejutnya aku mendengar berita itu. Rasa senang bercampur bingung melanda pikiranku. Apakah aku sanggup? Sekolah sebagus itu bisa menerima calon murid sepertiku. Sungguh tak dapat dipercaya. Akhirnya aku bergegas menyiapakan seluruh barang keperluanku, paman dan bibi senantiasa membantuku.

Dan setelah lama menunggu, akhirnya aku diterima di sekolah impianku ini dan berada pada peringkat 15, sebuah hal yang sangat tak kusangka sebelumnya. Tahun pertama. Setelah melewati masa orientasi dan inagurasi, akhirnya tiba pambagian kelas. Aku ditempatkan di kelas X.2. Bisa bercengkrama dengan teman-teman baru, rasanya senang sekali mengingat susahnya mendapat teman di daerah asalku karena jarak rumah yang berjauhan dan minimnya jumlah anak seumuranku disana. Tapi, Alhamdulillah aku sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan keadaan disini.

Posted on September 29, 2013, in Story and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: