Kelamku Terangku (by Audhrie)

 gloom1

              Senja telah berganti malam, hari-hari yang ku jalani semakin buruk lantaran kondisi keuangan sudah tak mendukung. Hidup di kampung bersama orang tua yang hanya bekerja sebagai petani,  tak dapat memenuhi semua keinginanku. Andai saja aku diberi kesempatan untuk pergi ke kota besar dan bekerja disana, aku yakin pasti hidupku akan lebih enak. Tapi bagaimana bapak dan ibu? Aduh, mereka berdua sudah renta dan tak mungkin aku meninggalkan mereka hanya bersama kakak perempuanku. Tapi, aku ingin bertekad bahwa aku harus pergi ke kota, toh semuanya juga demi menyejaterahkan keluarga ku disini. Jika aku sudah bekerja di kota dan dapat uang banyak, aku akan mengirimkan uang setiap bulan atau bahkan setiap minggu. Wah.. Bermimpi itu memang enak . Semoga saja dewi fortuna sedang berada di pihakku.

                Aku seorang gadis lulusan SMA bernama Ayu. Aku tinggal di kampung bersama kedua orangtua ku dan kakak perempuan ku. Tetapi, walaupun aku orang kampung, penampilan ku terbilang lumayan dengan mata sipit, wajah oriental, rambut halus dan panjang, serta kaki yang jenjang adalah satu-satunya modalku selain ijazah SMA. Orangtua ku terutama bapak, sudah tidak terlalu kuat lagi berjalan ke sawah dan apalagi membajaknya. Jadi, ibu dan kakak kadang membantu kalau sedang tidak ada kerjaan. Aku sebagai anak termuda, kerjaku ya hanya bisa nyuci baju, piring, dan bersih-bersih rumah, serta memasak. Keadaan yang membuatku tak dapat melanjutkan sekolahku ke jenjang yang lebih tinggi. Padahal, aku ingin sekali kuliah. Tapi nasib yang berbicara.

                Suatu hari ketika aku sedang memasak di dapur, kakak perempuan ku tiba-tiba memanggil, katanya ada yang ingin bertemu. Lalu aku menuju ke ruang tamu. Dari balik gorden, aku melihat seorang laki-laki paruh baya, memiliki kumis serta berbadan buntal dan berwajah agak seram. Lalu disebelahnya terlihat perempuan cantik dan terlihat postur tubuh yang ideal menatap dan bebicara kepada si laki-laki tadi. Aku menerka tirai yang membatasi ruang tamu dan dapur dengan memasang raut wajah kebingungnan.

                “Assalamualaikum. Ada apa, ya? Kok tuan dan nyonya ini mencari saya? Apakah saya berhutang?” aku bertanya dengan kepolosanku.

                Lalu, si wanita cantik berdiri dan menyodorkan tangannya seperti ingin bersalaman dan memperkenalkan diri kemudian aku pun berdiri dan menyambut tangannya,  “Maaf, Saya Angelina dan ini body guard saya Pak Hendra.” Lalu, kami berdua duduk kembali.

                “Ada perlu apa ya, mbak dan mas ini datang kemari siang-siang begini?” Aku kembali bertanya.

                “Kami berdua terutama saya, ingin menawarkan anda sebuah pekerjaan, tetapi sayaratnya anda harus ikut kami ke kota dan tinggal disana. Jangan khawatir, saya akan menjamin kehidupan anda disana beserta tempat tinggal anda.” Angelina menjelaskan.

                Wah, apakah ini sebuah keajaiban? Aku memang ingin pergi ke kota. Tetapi, bagaimana ibu dan bapak. Nantilah. “Ngomong-ngomong, pekerjaan apa yang ingin anda tawarkan ke saya?” Aku bertanya penasaran.

                “Maaf, demi privasi anda dan agen kami, kami akan memberitahukan apa pekerjaan anda ketika tiba di Kota J. ini demi kebaikan anda.” Si Angelina menjelaskan.

                Tanpa berpikir panjang, “Baiklah, saya terima pekerjaan anda. Lalu, kapan saya bisa berangkat.?”

                “Hari ini juga, saya akan menyiapkan pesawat langsung ke sana. Kami akan menunggu selama tiga jam dan anda harus sudah mengepak semua keperluan hidup anda selama disana.”

                “Baik, terimakasih, mbak.”

                Lalu, mereka berdua pergi. Melihat mereka berjalan semakin jauh dari rumah hingga hanya terlihat siluetnya saja, aku berpikir. Sebenarnya pekerjaan apa yang ingin mereka berikan padaku? Aku merasa sangat penasaran, tetapi inilah salah satu jembatan untuk mewujudkan semua mimpi-mimpiku yang sempat tertahan oleh kejamnya nasib.

                Tiga jam kemudian semua barang sudah dipak dibantu dengan kakakku. Selama mengepak barang, aku melihatnya hanya menunduk seakan merasa bersalah dan murung. Tapi, aku hanya diam tak menanggapinya. Mungkin ia memikirkan aku yang sebentar lagi akan pergi. Aku menyalin pakaian ku dengan pakaian terbaik yang aku punya, aku harus terlihat rapi untuk menyambut mimpiku yang akan segera menjadi nyata. Aku yakin kedua orangtuaku akan sangat senang. Kemudian Angelina dan body guard nya yang garang tersebut datang kembali dan menjemputku dengan sebuah mobil  Pajero hitam yang dikendarai seorang supir. Segera kami bertiga menaiki mobil, tapi sebelumnya aku berpamitan dengan semua anggota keluarga ku dan mereka hanya melihatku murung  terutama kakakku yang sedikit meneteskan airmata. Aku melambaikan tangan pada mereka yang semakin terlihat jauh, aku meniggalkan tempat dimana mimpiku selalu tertahan dan sekarang akan bebas.

                Lima tahun kemudian..

               Sekarang hidupku sudah berubah. Aku berjalan keluar dari apartemen berukuran besar yang aku beli sendiri dengan hasil jeripayah ku selama bekerja di kota ini. Aku mengambil mobilku yang terparkir di parking area apartemen ku dan segera menaiki serta menjalankannya. Lalu, tiba-tiba terbesit dipikiranku tentang keluargaku. Walaupun setiap bulan aku mengirimkan uang yang banyak kepada mereka, tetapi aku belum bisa memberitahu mereka apa sebernarnya pekerjaanku selama ini. Aku hanya tak ingin menyakiti perasaan mereka yang sudah mempercayaiku bahwa aku dapat menjaga diriku dari berbagai kemunafikkan. Tetapi, sekarang aku lega, satu hal yang aku tahu bahwa pekerjaanku saat ini adalah lebih baik dari apa yang selama ini telah kakakku kerjakan, yaitu menjadi wanita simpanan. Aku tak tahu apakah definisi lebih baik dapat mengartikan pekerjaan yang aku lakukan saat ini. Entahlah, seluruh hidupku disini hanya terisi penuh dengan kebohongan. Sempat menyesal telah menerima pekerjaan ini pada saat lima tahun lalu. Tetapi, hal ini sudah cukup membuatku mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini.

                Siang hari aku hanya duduk di kantorku yang telah disiapkan oleh Angelina pada kali pertama aku bekerja. Aku duduk di sebuah kursi portable nan empuk. Meja besar berlaci dan diatasnya terdapat sebuah papan nama berpahat namaku. Lalu, aku melihat sebuah Koran lokal terbaru yang terletak diatas meja. Aku membaca halaman depan dan membaca head news, “Seorang Pemilik Perusahaan Besar Terbunuh Dini Hari”. Aku hanya bisa tersenyum miris membaca judul berita di Koran tersebut. Lalu, aku membuka laci di meja kerjaku dan terdapat sebuah amplop cokelat besar dan tebal bertuliskan namaku di depannya. Ini adalah bayaranku atas puasnya client ku tadi malam karena kerja besar ku yang sukses. Aku kembali berpikir bahwa semua pekerjaan yang aku lakukan ini membuatku bosan. Menuntut berpakaian tertutup di siang hari dan ketika tiba gelap malam datang akan menjadi mini. Kesenangan yang aku dapatkan hanyalah sesaat sebelum semua kedok terbongkar. Angelina sangat pintar menyusun skenario hidupku selama disini, keuntungan sekaligus rasa gelisah selalu mendatangiku ketika melakukan pekerjaan kotor dan haram ini. Tapi, sepertinya apa yang aku jalani saat ini sudah tertulis pada suratan takdir ku. Aku hanya dapat menikmati apa yang telah aku peroleh hingga saat ini. Aku kenal Tuhan, tapi aku tidak dapat mendefinisikannya dengan sangat real. Keadaan yang membuatku tetap melakukan pekerjaan ini. Bertahun-tahun sudah ku jalani hidup dengan kemunafikkan. Keluargaku hanya tahu aku menjadi seorang karyawan di sebuah perusahaan besar dengan gaji yang sangat besar.

                Sebulan kemudian aku mengatur pertemuan dengan Angelina. Disitu akhirnya semua rahasia dibalik hidupku terungkap. Ternyata selama ini kakak perempuanku lah yang telah membuat link antara aku dan Angelina. Pekerjaannya yang menjadi wanita simpanan lah yang membuatku mendapatkan pekerjaan ini. Kakakku pernah menjadi wanita simpanan Hendra si body guard dan ia lah yang menawarkan pekerjaan tersebut pada kakakku. Lalu, kakakku menolaknya dan mengusulkan pada Hendra untuk menawarkannya saja kepadaku. Ia tak mau pergi ke kota karena ia hanya ingin melanjutkan hidup dengan menemani orangtua kami. Itulah sebabnya kakakku terlihat sangat murung ketika melihat aku pergi. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur, aku tidak pernah menyesali apa yang sudah aku lakukan sejauh ini. Inilah realita hidup seorang wanita pembunuh bayaran, hidup yang kelam dan penuh dengan implisit kehidupan, tetapi hal inilah yang bahkan membuatnya menjadi terang ketika aku dapat menikmati hidupku juga semua hasilnya.

Tamat.

Posted on September 25, 2013, in Story and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 9 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: