Inikah Cinta? (Part 4) by Audhrie

Hey guys! Finally, this is the 4th part of cerbung Inikah Cinta? Sorry for being so long to make this post, I had a problem with my facilities to make it, hehe. Let’s see them and enjoy the next story!

doubt-poster

Suatu pagi, Oliv sedang berbelanja buah di kios Pak Hasim. Ia membeli buah kesukaan Reza, buah markisa. Setelah itu, ia berjalan menelusuri kota kecil tempat villanya berada, dan tiba-tiba ia menabrak seseorang.

“Aduh! Elo?” Oliv menyadari bahwa yang ditabraknya bukanlah seseorang yang asing, melainkan..

“Ehh, kamu. Apa kabar?” Adit menyapa dengan sangat tulus dan ramah.

Bagaikan ditimpa satu truk bunga mawar, Oliv terkejut dengan keramahan lelaki yang ada di depannya tersebut. “Elo, kok bisa-bisanya sih kita ketemu lagi?” Oliv nampak kebingungan.

“Takdir. Jawab dong pertanyaanku tadi. Aku Adit, apa kabar, Olivia?”

“Lho, tau nama gue darimana, lo? Kita kan belum pernah kenalan sebelumnya.” Oliv merasa penasaran.

“Ini, aku temuin pas kita terakhir ketemu, mungkin terjatuh pas kamu pergi dan nabrak aku.” Adit menyodorkan tangannya kepada Oliv dengan sebuah kalung liontin di atas tangan kanannya.

“Ohh, makasih, ya. Gue udah hampir putus asa nyariin kalung ini. Ini pemberian pacar gue.”

Adit merasa kalah, ternyata bayangan wanita yang selama ini tersangkut dipikirannya ternyata sudah lebih dahulu dimiliki oleh orang lain. “Ohh, apa dia disini? Aku mau kenalan sama dia, boleh?”

Olivia baru meyadari bahwa sedari tadi, Adit memanggilnya dengan sebutan ‘kamu’ dan menyebut dirinya sendiri sebagai ‘aku’. Tapi, Oliv hanya terdiam dan menjawab pertanyaan Adit tadi. “Iya, pacar gue yang sekarang mungkin udah di Surga.” Oliv merasakan bahwa bola matanya mulai memanas.

“Ohh.. maaf, aku nggak bermaksud.” Adit merasa tidak enak dengan pertanyaannya tadi.

“That’s fine.”

“Kalo gitu, boleh aku ajak kamu makan siang hari ini? Di café deket taman kota.” Adit berharap ajakannya tidak ditolak.

“Oke, yuk kita berangkat.”

Adit merasa sangat bahagia karena dapat mengajak Oliv makan siang dengannya, tetapi ia masih ragu untuk menyukai Oliv karena ia merasa sanasib dengan Oliv. Ditinggal kekasih untuk selamanya, ya walaupun Alisa hanya meninggalkannya dengan alasan sudah menemukan pria yang lebih baik dan mapan darinya.

Sesudah makan..

“Liv, boleh aku antar kamu naik motor? Ke rumahmu. Apa kamu tinggal disini?”Adit memasang wajah penuh harap kepada Olivia.

“Kenapa nggak? Aku tinggal di villa dekat bukit kecil.” Oliv memasang senyum paling manis, walaupun ia belum tahu apakah maksud pria yang sedang bersamanya ini. Tapi, sikap inilah yang harusnya ia tunjukkan.

Oliv tiba-tiba saja teringat akan Reza yang selalu mengantarnya pulang sehabis bekerja ataupun mereka pergi bersama. Ia merasakan kehangatan sikap Reza pada diri Adit yang membuatnya semakin terbuka dengan Adit sehingga ia pun mengetahui bahwa Adit pun bernasib sama sepertinya walaupun nasibnya lebih tragis ketimbang Adit.

“Yaudah, yuk pulang.” Ajak Adit yang langsung diiyakan oleh Oliv.

            Sudah satu tahun semenjak kepergian Reza dari dekapan Oliv, tetapi bayangannya selalu ada di setiap langkah Oliv yang membuatnya susah untuk bangkit dan menerima seseorang lain didalam hatinya, walaupun sekarang ia dan Adit sudah sangat dekat, ia masih ragu untuk memberikan cintanya kepada Adit. Oliv masih terlalu takut untuk kehilangan lagi, terlalu takut untuk mengkhianati Reza yang sangat mencintainya. Tapi, apa yang bisa ia harapkan, Reza sudah bahagia bersama para bidadari nirwana di tempat yang berbeda.

Tiiiiiiiiin.. Tiiiiiiiiiiin.. Bunyi klakson sepeda motor Adit yang dulu berisik, sekarang sudah seperti musik di telinganya. Adit berjanji akan mengajak Oliv berkeliling lembah tempat favorit Olivia. Oliv pun bergegas keluar villa dan menaiki bagian belakang jok motor Adit yang ia ketahui bermerk MegaPro. Ia dan Adit sangat menikmati perjalannya menuju padang rumput di lembah, sesekali Adit mebuat lelucon dan membuat Oliv tertawa hingga motornya terkadang sedikit oleng dan hampir terjatuh. Tetapi, karena Adit bisa dibilang lihai, jadi Oliv tidak terlalu khwatir.

“Sip, udah sampe nih, Sayang.” Adit memberitahu Olivia.

Oliv merasa aneh ketika Adit memanggilnya dengan sebutan itu, sebutan yang biasanya digunakan Reza untuk memanggilnya dulu. Ia merasa heran walaupun jauh di lubuk hatinya terbesit rasa bahagia. “Apa? Kamu panggil aku apa? Sayang? Nggak salah, tuh? Hmm..” Oliv berkata sambil menuruni motor dan menoleh ke arah Adit.

“Ehh, maaf. Aku keceplosan, Liv. Aku nggak bermaksud.” Adit merasa bersalah.

“That’s fine.” Barusan Oliv merasa bahwa ia adalah “Pemberi Harapan Palsu”.

“Yuk, turun.” Ajak Adit guna mengalihkan perhatian Oliv yang raut wajahnya sudah sedikit berubah.

Sambil melihat-lihat, Oliv berkata, “Hmm, udah beberapa minggu aku nggak kesini, rasanya lebih sejuk.” Oliv langsung teringat bahwa saat ia terakhir kesini ialah ketika ia sedang bersedih dan sebelum mengenal Adit, pria yang kembali menceriakan harinya.

“Eh, aku bawa peralatan piknik, aku tadinya pengen ngajakin piknik disini, Liv. Kamu mau?” Adit sangat berharap ajakannya diiyakan oleh Oliv karena takut Oliv tidak mau berlama-lama disini.

“Ohh, for sure!” Oliv sangat bersemangat dengan ajakan Adit yang membuat raut wajahnya kembali merona, dan lebih terlihat manis.

“Yeah! Yuk, digelar alas duduknya. Aku cuma bisa nyiapin roti isi buat hari ini sama jus jeruk. Gimana?” Adit berkata dengan raut wajah yang kurang puas.

“Nggak masalah, kok. Aku suka roti isi, yang biasanya dibuatin Audy pagi-pagi.” Oliv berkata sambil sedikit tersenyum.

Lalu, mereka berdua menikmati makanan yang dibawa Adit, dan menghabiskan waktu hanya berdua di bawah sebuah pohon rindang di padang rumput bertaburan bunga, hari yang sangat indah hingga membuat keduanya lupa waktu. Hari sudah semakin gelap dan sedikit mendung. Mereka bergegas membereskan semua alat piknik. Oliv membawa peralatan dan Adit menghidupkan motornya karena cuaca sudah mulai gerimis. Adit khawatir kalau hujan akan menjadi lebih deras, dan benar ketika di perjalanan hujan semakin deras dan Adit berpikir tidak mungkin bila ia akan meneruskan perjalanannya karena ia takut Oliv akan sakit. Kemudian Adit menghentikan motornya di depan sebuah halte bus di pinggir jalan dan segera membawa Oliv berteduh. Sementara itu, jalanan semakin sepi dan hujan tidak ingin mereda. Oliv hanya meringkuk sambil duduk di bangku kayu di halted an wajahnya sudah berubah pucat.

“Liv, kamu nggak kenapa-kenapa, kan?” Adit sangat khawatir akan keadaan Oliv.

Gigi dan seluruh tubuh Oliv bergetar karena kedinginan. “Aku dingin, Dit..” Ia merasa tak kuat untuk membuka kedua matanya. Rambut dan bajunya yang basah ditambah ia hanya menggunakan dres berlengan pendek yang membuatnya lebih kedinginan.

Adit bingung, ia pun tidak membawa jaket kulitnya yang biasanya selalu ia pakai ketika pergi jalan-jalan. “Maaf..” Ia membisikkan kata itu di telinga kiri Oliv, dan seketika itu ia memeluk Oliv yang belum membuka matanya.

Lalu, Oliv merasa bahwa ia sedang dipeluk karena hangatlah yang dirasakan. “Jangan berkata hal itu, Dit.” Oliv merasa lebih tenang.

Selama hujan turun, Adit memeluk Oliv tanpa melepasnya, memberikan kehangatan tubuhnya kepada Oliv yang sekarang mulai membuka matanya. “Thank’s ya, Dit.” Oliv berkata sambil tersenyum, membuatnya terlihat cantik walaupun wajanya nampak basah kuyup.

“Never mind. Aku sayang kamu.” Adit merasa bahwa ia bukan lagi keceplosan, ia sudah menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan hal ini. Dan mungkin sekaranglah waktunya.

Oliv merasa bahwa bunga-bunga di padang rumput tadi berterbangan dan menabrak wajahnya. Adit yang hanya menunggu apa yang akan dilakukan Oliv. Menamparnya ataukah memberinya sinyal positif untuk melanjutkan hubungan mereka. Namun, sebagai laki-laki ia hanya bisa menunggu jawaban. Sedangkan Olivia, sambil sedikit melototkan matanya, ia hanya bisa diam menaggapi kata-kata Adit barusan dan melemparkan senyum kecil nan manis kepada Adit yang masih memeluknya.

Setelah hujan tidak terlalu deras, Adit melepaskan pelukannya dari Olivia. Tetapi, ternyata sedari tadi, Olivia sudah tertidur di pelukan Adit yang tidak menyadarinya. Jadi, ia tetap memegangi Oliv, dan seketika itu Olivia terbangun dan wajahnya terlihat tampak pucat.

“Kamu kenapa, Liv? Muka kamu pucat.” Adit khawatir jika kekhawatirannya akan Olivia jatuh sakit ternyata terbukti.

“Aku nggak kenapa-kenapa, kok. Pulang, yuk Dit. Aku pusing.” Olivia berkata sambil memegangi kepala sebelah kirinya.

“Iya, Liv. Kita pulang sekarang.”

Keduanya langsung bergegas karena hujan yang sudah reda. Sesampainya di villa Olivia, Adit merangkul Olivia di pundaknya agar ia tak tejatuh dan langsung membawanya masuk ke villa. Ternyata sudah ada Audy menunggu di ruang tamu.

“Yaampun, Kak. Lo kenapa? Kakak gue kenapa, Dit?” Audy langsung menduga bahwa Adit lah yang membuat kakaknya jatuh sakit.

“Tadi pas pulang dari padang rumput, tiba-tiba hujan deras, Dy. Gue bingung, jadi gue bawa dia ke tempat berteduh. Tapi, sebelumnya kita udah basah duluan. Jadinya begini deh. Yaudah, sekarang kita bawa ke kamarnya aja.” Adit merasa bersalah atas hal yang terjadi pada Olivia.

“Biar gue yang bawa ke kamarnya, Dit. Lo siapin kompres aja.” Audy langsung membopong kakaknya ke kamar.

“Oke.”

Posted on August 19, 2013, in Story. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: