Inikah Cinta? (Part 3) by Audhrie

So, this is the 3rd part of Inikah Cinta? Let’s read and enjoy everyone.

doubt-poster

           Audy membawakan teh hangat untuk Olivia yang sedang duduk dengan tatapan kosong di balkon villa di suatu pagi.
“Nih, Kak. Gue buatin teh hangat.” Diletakkan tehnya diatas meja bundar di depan Oliv yang tidak berekspresi sama sekali.
Oliv langsung teringat, bahwa dulu Reza sangat menyukai teh manis buatannya yang kata Reza sangat harum. Matanya seketika berlinang, tanpa berkata-kata yang membuat Audy kebingungan.

“Lo kenapa, Kak? Kok nggak diminum tehnya.”

“Masih panas.” Oliv mengatakannya tanpa menyentuh cangkirnya sedikitpun.

“Ohh.. Yaudah, gue tinggal kedalem ya.” Tanpa menunggu jawaban dari Oliv, Audy langsung ngeloyor pergi.

Tiba-tiba, Oliv langsung terpikir tentang padang rumput di dekat lembah. Ia ingin pergi kesana. Ia langsung berdiri dan pergi ke kamarnya serta mengambil tas kecil kepunyaanya tanpa mempedulikan teh hangat yang sekarang sudah mendingin, buatan Audy. Audy yang sedang menonton tv terlihat bengong ketika melihat kakaknya ngeloyor pergi tanpa menoleh lagi kearahnya. Seketika, Audy teringat bahwa hari ini adalah tanggal 7 Juli, hari ulang tahunnya Reza.

Di padang rumput.. Za, kenapa kamu pergi disaat detik-detik menjelang hari bahagia kita? Kenapa Tuhan nggak ngasih kesempatan buat kita bahagia seperti pasangan yang lain? Kenapa disaat aku sudah menemukan kamu, yang terbaik, kita malah dipisahkan? Apa sebenarnya rencana Tuhan? Lalu Oliv melihat bhayangan Reza dikepalanya yang sedang berbicara, “Sayang, Tuhan ingin kamu lebih bahagia, percayalah.. Akupun begitu. Aku tidak ingin kamu sedih karena tahu aku bukanlah pasangan yang sehat. Pergilah, cari pasangan lain. Jangan takut mengkhianatiku karena aku percaya kamu sangat mencintaiku.” Bayangan Reza seketika hilang dari lamunan Oliv tatkala ia mendengar suara berisik dari balik semak rumput yang tinggi. Ia lalu pergi melihat apa yang ada dibalik semak tersebut.

“Ehh, kalian! Berisik banget sih!” Ia melihat dua orang laki-laki sedang berkemah dan sedang tertawa-tawa sebelum Oliv berteriak tentunya.

Salah satu laki-laki benama Tomi berkata, “Wih, kok ditengah lembah kayak gini ada  wanita cantik?”

“Gue nggak bercanda, ya! Jangan berisik bisa?” Wajah Oliv terlihat memerah karena sangat marah.

Salah satu laki-laki yang bernama Adit langsung bangkit dari duduknya dan mendekati Oliv, “Lo siapa, sih? Kok nyuruh kita diem. Emang ini tempat punya lo?”

Oliv langsung berlari pergi sambil menangis.

“Yah, itu cewek malah pergi, sob. Gue jadi penasaran, dia tinggal disini nggak ya?” Adit berbicara pada Tomi.
“Nggak tau, dikuburan kali.” Tomi berkata dengan nada yang sangat datar. Lalu mereka berencana untuk segera pergi dari tempat tersebut dan mengemasi barang-barang mereka. Menuju villa. Sementara Oliv.,

“Itu cowok resek banget, sumpah! Kasar banget, nggak kayak Reza.” Ia membandingkan laki-laki yang ditemuinya tadi dengan Reza yang menurutnya sangat pandai memperlakukan wanita. Lau Oliv berjalan menuju ke satu-satumya tempat dimana ia bisa menemukan kue tiramisu kesukaanya, toko kue Pak Hendra.

“Siang, Pak!” Sapa Oliv yang seketika mengejutkan Pak Hendra yang sedang menyusun roti di lemari penyimpanan yang terbuat dari kaca yang didalamnya bersuhu rendah.
“Ehh, ada Neng Oliv. Ngejutin bapak saja, mau pesan apa , Neng?” Pak Hendro bertanya.

“Tiramisunya 2 dibungkus ya, Pak.”

“Oke, Neng!” Lalu Pak Hendro memberikan bungkus kue yang terbuat dari kertas berwarna cokelat muda kepada Oliv.

“Makasih, Pak. Ini uangnya.” Oliv membayar kuenya tanpa bertanya, ya karena ia merupakan pelanggan paling setia di toko kue Pak Hendro. Kemudian ia langsung pergi dan keluar dari toko.

Olivia memang sedang berada di jalan menuju villa, tetapi lamunannya tertuju ke padang rumput di lembah, dimana ia bertemu dengan dua pria resek yang membuyarkan lamunannya tentang Reza. Kemudian ia tersadar bahwa ia sedang memikirkan salah seorang pria yang membentaknya yang telah ia bandingkan dengan Reza tadi.

“Ehh, kok Gue mikirin orang itu, sih?” Oliv berbicara pada dirinya sendiri. Lalu, ditengah perjalananya ia dikejutkan oleh seorang pria.

“DOR!” Teriak Adit yang tidak dikenal Oliv.

“Ehh, siapa sih, lo?” Oliv langsung tersadar, kalau pria yang sudah mengejutkannya ini adalah pria resek yang barusan tak sengaja masuk ke lamunannya. “Lo, yang tadi berisik di lembah, kan?” Oliv meyakinkan dirinya.

“Ehh, lo inget gue.” Adit merasa senang.

“Ngapain lo muncul di depan muka gue? Minggir sana, gue mau balik.” Oliv ingin pergi darinya, tapi ia mencegah.

“Eiits, tunggu dulu. Lo sebenernya siapa, sih? Kok dari lembah sekarang ke tengah kota. Setan ya lo?”

“Gak penting buat lo, kan? Jadi sekarang lo gue anjurin buat minggir.” Oliv sudah benar-benar kesal dan ia langsung pergi tanpa menunggu kata-kata dari Adit.

Adit mendengar suara gemerincing di tanah, lalu didekatinya dan diambilnya sesuatu yang menurutnya adalah sumber dari bunyi tersebut. Ternyata benda tersebut adalah sebuah kalung liontin milik Oliv yang terjatuh dari lehernya ketika ia pergi dan menabrak tubuh Adit. Kemudian, Adit membuka liontin tersebut dan ia membaca dua buah nama yang terpatri disana, “Reza dan Olivia”. Lalu ia menduga bahwa wanita tersebut bernama Olivia. Reza lalu pergi dan membawa kalung tersebut didalam saku celananya.

            Adit sedang duduk di teras villanya. Tiba-tiba ia teringat akan wanita yang satu minggu lalu ia temui dengan tidak sengaja tentunya, yang ia ketahui dari liontin yang sekarang berada di tangannya bernama Olivia. Ia bingung, selama satu minggu belakangan ini ia hanya memikirkan tentang Olivia. Adit merasa tidak yakin dengan perasaannya, dia merasa selalu penasaran tentang apa, siapa, bagaimana, dan ada apa dengannya dan Olivia. Lalu, setelah lama terjun ke dalam lamunannya, ia terpikir kalau hari ini ia akan menemui Olivia, “tapi dimana?” dan hal inilah yang selalu menjadi penghambat, ia tidak tahu apapun tentang Olivia..

“DORR!” Tiba-tiba Tomi mengejutkan Adit dari bagian belakang dan membuyarkan lamunan Adit tentang Olivia. “Lagi mikirin apa sih, lo? Serius amat.” Tomi bertanya karena penasaran dan menyadari bahwa satu minggu belakanngan ini, Adit teman baiknya terlihat agak murung.

“Mau tau aja sih, lo.” Adit sangat kesal dengan tindakan Tomi tersebut.

“Hmmm, lagi mikirin cewek ya, lo? Siapa?” Tanya Tomi dengan kepo-nya.

“Lo masih inget nggak, wanita cantik yang marah-marah pas kita lagi camp di dekat lembah? Gue bingung, gue jadi selalu kepikiran sama dia, bro.” Adit merasa jengkel dengan dirinya sendiri karena barusan menceritakan isi hatinya secara tersirat kepada Tomi.

“Wah.. jangan-jangn lo naksir dia, ya? Bilang-bilang dong, jangan disimpen sendiri.”

“Gue juga masih ragu, sih. Lagian gue nggak terlalu kenal tentang dia dan sejauh ini gue cuma tau namanya doang, Olivia.” Ia berkata sambil mengerutkan dahi tanda tak yakin.

“Lo mesti cari tahu, Dit. Lumayan kan, lagian lo bisa lari dari pikiran lo tentang mantan lo yang udah ninggalin lo karna selingkuh itu, Alisa.” Tomi meyakinkan Adit agar mau mendengarkan omongannya. Tomi pikir ini demi kebaikan Adit.

“Bisa jadi sih.., tapi gue..” Adit ingin mengatakan bahwa ia belum yakin, tetapi disambar langsung oleh Tomi yang sepertinya sudah menduga akan apa yang ingin diucapkan oleh Adit.

“Gue ngerti, Dit. Gue ngedukung lo, sob. Mungkin dia reinkarnasinya Alisa dihati lo, hahaha.” Tomi berusaha mencairkan suasana yang sudah mulai serius barusan saja.

“Oke, sob. Thank’s.” Adit sudah mulai mantap dengan hatinya.

Posted on August 4, 2013, in Story. Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: