Inikah Cinta? (Part 2) by Audhrie

This is the second part, everyone! Enjoy and comment, please!

doubt-poster

Sesampainya di depan rumah Oliv..
“Liv, kalo gitu gue langsung pulang aja, ya.. udah malem.”
“Oke, Za. Thank’s. See you!” Oliv melambaikan tangannya kepada mobil Reza yang sudah mulai berjalan.
Hari yang menyenangkan.

6 bulan kemudian, Olivia resmi menjadi kekasih Reza. Oliv sangat bersyukur karena Reza adalah pria romantis dan selalu memberikan kejutan-kejutan yang tidak pernah diduga Oliv. Seandainya saja, perempuan yang ditembaknya beberapa waktu lalu itu tidak menolak, mungkin hingga sekarang Oliv masih sendiri dan mungkin tidak akan terpikirkan olehnya untuk mencari pacar. What a life!

Suatu hari, ketika Reza sedang menemani Oliv mencari model rancangan busana yang baru untuk pameran busana bulan depan, tiba-tiba Reza mengeluh sakit dibagian dekat pinggangnya, saking sakitnya ia lalu jatuh pingsan di depan salah satu mall yang baru akan mereka masuki. Oliv langsung panik dan menelepon ambulans untuk membawa Reza ke rumah sakit terdekat. Selama perjalanan ke RS, Oliv menangis dan berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan kekasih yang sangat dicintainya. Sesampainya di RS, Reza langsung mendapatkan penanganan dokter spesialis. Lalu, tiba-tiba dokter memanggil Oliv.
“Apakah anda adalah keluarganya?”
“Saya tunangannya, Dok. Apa yang terjadi pada Reza?” Oliv dan Reza memang telah bertunangan beberapa hari yang lalu.
Wajah dokter yang terlihat sedikit tidak yakin dan pasrah membuat Oliv bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Reza. “Gagal ginjal..”
Tempat duduk empuk yang diduduki Oliv kini tiba-tiba terasa amblas. Ia merasa tak percaya dengan apa yang baru didengarnya dari seorang paruh baya yang mengenakan jas putih selutut dan berkalungkan sebuah stetoskop didepannya. Ia tak bisa membayangkan, laki-laki yang sangat dicintainya dapat mengidap penyakit mengerikan tersebut tanpa disadarinya.
“Apakah Reza masih punya harapan untuk sembuh, Dok?” Oliv bertanya dengan penuh harap sambil menoleh pasrah kearah Reza yang terbaring diatas tempat tidur pasien yang sedang tersenyum kecil padanya.

Reza tidak mau membuat malaikat cantik yang dicintainya khawatir dengan penyakitnya tersebut. Dengan intonasi suara yang begitu pelan Reza berbicara, “Tidak ada yang perlu dikhwatirkan, Sayang.”
Lalu, dokter menjawab pertanyaan Oliv yang belum sempat dijawabnya tadi. “Kemungkinan untuk sembuh sudah sangat kecil. Penyakit Reza sudah berada pada tahap yang sangat mengkhwatirkan. Tapi, mungkin ia tidak pernah menyadarinya karena mungkin gejalanya yang tidak separah penyakitnya.” Dokter berkata dengan sangat hati-hati seolah tidak ingin membuat Oliv semakin sedih.

Terbaring lemah. Setidaknya itulah yang hanya dapat dilakukan Reza saat ini, selain minum obat dan makan tentunya. Ia malah sangat mengkhwatirkan Oliv. Tentang pertunangannya dan rencana pernikahan mereka yang tinggal menunggu waktu 1 bulan lagi, tentang wedding dress yang sudah dirancang sendiri oleh Olivia, gedung pernikahan yang sudah ditetapkan, undangan yang sedang dalam proses percetakan, dan yang pastinya seluruh anggota keluarga besar mereka berdua yang sudah tentu akan kecewa karena tahu semua acara akan segera dibatalkan.

Sementara itu..,

Dalam lamunan yang semu, Olivia selalu membhayangkan betapa tampannya Reza dan betapa cantiknya ia ketika menggunakan pakaian pernikahan mereka, berdiri berdampingan di pelaminan, menyambut tamu dengan senyuman paling manis, lalu tiba-tiba lamunannya hancur ketika mendengar suara berisik dari pintu yang dibuka secara paksa oleh Audy.

“Aduuuh, ada apa sih, Dy? Bikin berisik aja.”
“Kak, Reza kritis..” Audy berbicara dengan lembut agar tidak mengagetkan Oliv.

“APA???” Oliv langsung bangun dari posisi terbaringnya dan segera menarik tangan Audy. Lalu, Audy mengerti dan mereka berdua menuju ke RS.

Sesampainya di RS..

Olivia langsung mendobrak pintu ruangan tempat Reza dirawat. Ia sempat terkejut Karena semua anggota keluarga Reza ternyata ada disana. Sementara Reza sendiri, dengan matanya yang terpejam dan tanpa gerakan seakan tidak menyadari bahwa semua orang berada disekelilingnya. Oliv mendekati Reza dan langsung memegang erat tangannya.

“Sayang.. Aku merindukanmu. Apa kamu ngerasain kehadiran aku disini? Apa kamu mau sembuh? Aku sangat mencintaimu.” Seketika itu juga air mata Oliv tertumpah dan ia tidak bisa berkata-kata lagi melihat Reza yang sekarang terlihat lebih kurus dan bibirnya yang tidak lagi merona serta tubuhnya yang kaku. Lalu, tiba-tiba suasana diruangan menjadi sunyi dan kemudian terdengar bunyi datar monoton dari salah satu mesin pendeteksi detak jantung yang terhubung langsung ke tubuh Reza, menandakan bahwa Reza tidak lagi bernapas dan.. bernyawa.

“Sayang.. Ada apa?” Oliv sangat panik, lalu ia menjerit memanggil dokter, “DOKTER!!!” Beberapa saat kemudian dokter pun datang bersama dua orang suster.

Lalu dokter memeriksa denyut nadi Reza sebelah kiri tepat di pergelangan tangan Reza dan juga sekitar lehernya. Wajah dokter seketika menjadi tidak enak.
“Maaf, kami telah melakukan yang terbaik, tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain.” Lalu kedua suster menutup seluruh bagian tubuh Reza dengan selimut.
“Tidak.. Reza!” Oliv langsung memeluk tubuh Reza seakan ingin mentransfer kehangatan tubuhnya dan berharap Reza kembali bernapas. Tapi, ia tahu semua itu tidak akan terjadi. Ia hanya bisa menangis melihat kepergian makhluk Tuhan yang sangat dicintainya, makhluk Tuhan yang seharusnya menemani masa depannya hingga tua nanti, makhluk Tuhan yang sekarang hanya tinggal kenangan menyakitkan yang terbujur kaku.

(eits, masih ada part 3, ditunggu yaa!)

Copyright @ Audhrie Fernanda

Posted on July 28, 2013, in Story. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: